Sebagian dari kita amat menyukai produk-produk yang lagi hype, alias sedang ramai dan menjadi pembicaraan banyak orang. Namun, sebagian yang lain lebih berselera pada produk-produk yang unik dan khas. Produk yang bersifat tidak massif, buatan tangan-tangan terampil, atau yang belakangan popular dengan istilah Artisan. Kata artisan ini rupanya bermakna lebih dalam dari sekadar handmade.

Dari catatan dan pengamatan Majalah SCG, di Kota Seribu Taman ini kian banyak bermunculan produk-produk artisan. Tidak heran, karena di kota ini iklim kreativitas sangat ditumbuhkan. Termasuk indikasi kian bermunculan usaha-usaha kecil menengah (UKM), di berbagai penjuru Kota Surabaya. Di edisi Majalah SCG bulan Oktober ini, menghadirkan laporan Khas Surabaya, beberapa produk artisan khas Surabaya. Mereka hadir dan bersemangat untuk memenuhi kebutuhan ceruk pasar special, walaupun target pasarnya tidak banyak.

Berangkat dari kreativitas, mengandalkan kemampuan dan keterampilan tangan masing-masing. Beberapa produk Artisan dihadirkan di ruang baca Anda. Semoga berkenan, sekaligus mampu memberikan inspirasi untuk melahirkan produk artisan lainnya, bila ada minat...

julajuli.com

Keseimbangan Hidup a la Bakedreams

Sebagai sourdough, keistimewaan produk Bakedreams merupakan sourdough dengan tekstur unik yang menyeimbangkan selera roti Asia yang lembut. Namun tetap dengan prinsip, seminim mungkin menggunakan dairy products dan bahan olahan, rasa dan teksturnya yang unik didapatkan dari proses fermentasi yang panjang dan tepat.

Dominic Revaldi, penggagas Bakedreams, mengatakan semula memproduksi dan menjual produk pastry, seperti cake untuk ultah atau event lainnya. Pada Oktober 2010, Bakedreams didirikan sebagai sebuah lini bisnis dari revood movement (revood.net). Saat itu, produksi cake lebih untuk konsumsi sendiri. Lalu kemudian ditawarkan dan dijual untuk umum dengan tujuan sebagai showcasing atas konsep self sustainability yang seimbang dengan kebutuhan tubuh manusia dan alam.

Kemudian berkembang menjadi lini sourdough, sejak 2018. Orientasi utamanya tetap sama: demi mengembalikan keseimbangan kehidupan, bukan semata berjualan. Karena itu, paparnya, tiap produk pastry dan bakery yang dibuatnya, harus melalui riset revood terlebih dahulu sebelum diluncurkan via Bakedreams.

Karena itu, menurutnya, Bakedreams senantiasa menjaga mutu prosesnya. Sebagai usaha artisan, Bakedreams memproses pembuatan produk utamanya dalam waktu 30 jam. Setiap satu produk dengan produk berikutnya memiliki perbedaan dan akan terus berubah dan berkembang sesuai dengan artistnya.

Sebagaimana salah satu syarat artisan, katanya, mesti memiliki keunikan produk yang tidak dapat disamai sekalipun dengan produk sejenis. Tiap produk merupakan sebuah bentuk kreasi seni buatan tangan manusia (sang artist) yang berbeda antara satu artist dengan artist yang lain.

“Hal ini tentu berbeda dengan produk-produk yang diproduksi secara sistematis, konsisten, bahkan yang tidak melibatkan manusia dalam pembuatannya,” tegasnya.

Nah, apa saja produk Bakedreams? Telusuri via instagramnya @ bake.dreams untuk melihat berbagai varian, harga, dan cara pemesanan.

julajuli.com

Sampo Organik Sahabat Rambut

Sampo dengan beragam khasiat dan merk beredar di pasaran, mulai dari yang organik hingga non organik. Sejumlah produsen sampo organik berskala home industry mulai menunjukkan geliatnya. Termasuk yang ada di Surabaya, salah satunya yaitu Luv it Hair Care yang didirikan oleh Eizabeth Tiffany sejak akhir 2018. Produknya dibuat dari bahan dasar organik yang tak hanya aman untuk kulit kepala, namun juga aman untuk lingkungan.

Produk sampo ini bebas dari paraben serta parfum sintetik. Untuk kandungan nutrisi, Tiffany mengganti obat kimia dengan essential oil organik yang diimpor dari luar negeri. “Aku pakai essential oil dari luar negeri ini karena dalam proses pengolahan buahnya tidak mengenal musim seperti di Indonesia,” tutur wanita kelahiran 1997 ini. Selain essential oil, Luv It Hair Care juga menggunakan tea tree oil sebagai bahan alternatif.

Dalam prosesnya, Luv It Hair Care diproduksi secara manual, yaitu home industri. Proses awal dimulai dengan pencampuran bahan dasar sesuai dengan urutan, setelah itu bahan dasar tersebut akan disaring dalam filter sederhana yaitu dispenser yang ditutup kain saring. Hal ini bertujuan untuk memilah antara sampo dengan benda asing yang kemungkinan tercampur dalam pengadukan. Sampo yang sudah disaring tersebut kemudian diwadahi dalam botol berukuran 250ml. Sebelum didistribusikan, sampo perlu melewati tahap aging selama kurang lebih satu sampai dua bulan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Terdapat tiga varian sampo dengan bahan basar berbeda untuk Sampo Luv it Hair Care, diantaranya adalah Coconut, Lavender & Rosemary dan Kiwi. Uniknya, penggunaan sampo ini juga dibagi menjadi dua macam langkah.

Untuk langkah pertama ini, sampo Coconut menjadi pilihan awal yang tepat, bahan dasar dalam sampo ini murni dari minyak kelapa yang dapat membantu mengurangi minyak dan mengatasi masalah ketombe dan jamur. Setelah langkah pertama, customer diberikan dua pilihan dalam mengatasi masalah rontok serta kebotakan, lavender & rosemary serta kiwi. Untuk kiwi, dapat mengatasi masalah kerontokan, sedangkan lavender & Rosemary lebih premium yang dapat mengatasi kerontokan serta menumbuhkan bayi-bayi rambut. Hasil pada kulit kepala juga akan lebih maksimal jika penggunaanya menyesuaikan langkah yang dianjurkan.

julajuli.com

Ubin Handmade Asli Surabaya

Ubin atau yang juga dikenal dengan sebutan tegel ini berbeda dengan keramik yang biasa atau banyak dipakai. Madana Tiles, sebuah karya Anak Surabaya dengan idealisme mempertahankan keindahan heritage, sekaligus memenuhi permintaan ceruk pasar yang mulai menggeliat.

Madana yang memulai usaha 2016 akhir mengaku motivasinya dari memandang ubin ini heritage yang harus dilestarikan. “Seiring waktu, karena keramik kian dominan, kami ingin mengangkat kembali. Benda ini sudah dipakai sejak jaman kolonial, yang dibawa dari Eropa,” terang Edward Yapeter, Marketing Director Madana Tiles.

“Kami menganggap bahwa ini merupakan bagian dari budaya dan sejarah bangsa ini juga. Sebab itu kami berupaya menghadirkan kembali,” tambahnya. Alasan lain, karena kelangkaannya. Beberapa arsitek didapati kesulitan untuk mendapatkan ubin jenis ini. “Kemudian kami melihat bahwa di sini ada potensi pasar. Walaupun dalam proses produksinya cukup lama, karena handmade,” ungkapnya.

Melihat ubin Madana ini layaknya melihat Batik Tulis. Dalam satu kali produksi tidak akan dijumpai kesamaan warna, mungkin juga detail bentuk, masing-masing produk bisa berbeda. “Namun disanalah seninya, dan justru itu yang dicari konsumen. Jadi, para peminat memang sudah paham, dan memang berharap kesan vintage, heritage, dan natural, yang muncul dari produk tersebut,” tegas Dimas Pramudita, Creative Director Madana Tiles, yang juga hadir pada kesempatan bertemu dengan Majalah SCG.

Bisnis Madana sangat bersifat customizable. Sejauh ini sudah mempunyai lebih dari 40 motif ubin. “Bagi kami, motif permintaan dari klien sangat bersifat eksklusif, dan tidak akan dijual kepada orang lain,” tutur Dimas. Pembelian tidak terbatas, bahkan setengah meter pun dilayani.

Dalam proses produksi keramik ini dilakukan secara manual, kecuali pres yang masih menggunakan mesin. Diproduksi oleh 20 orang pekerja, dengan kapasitas maksimal 25 meter per hari.

Produk yang ada berukuran dari 10 X 10 Cm hingga 30 X 30 Cm. karakteristiknya berpori, sifatnya mirip marmer, finishing melalui polesan. Hasilnya bisa diatur glossy atau doff. Bahan 90% lokal, pigmen warna yang masih import dari Jerman.

Bisnis ini asli Surabaya, digagas dan dikelola oleh orang-orang muda Surabaya. Pasar banyak dari luar kota dan luar pulau. Pelanggan utamanya adalah para arsitek, beberapa end user juga, setelah melihat Instagram @madanatiles. Setelah ubin semen, ubin teraso, ke depan akan dikembangkan ubin keramik tanah liat dan tetap handmade.

julajuli.com

Makrame yang Kian Digemari

Namanya mungkin sedikit asing di telinga. Namun sebenarnya karya kerajinan yang satu ini mulai meramaikan sejumlah kafe hingga hunian sebagai elemen dekoratif. Kerajinan ini bernama makrame.

Penggunaan makrame saat ini sudah menjajah berbagai lini, seperti wall decor, gantungan pot, sampai hammock. Makrame cocok digunakan dalam situasi apa saja, tapi akan nampak lebih padu bila menyatu dengan konsep hippies, vintage, dan urban jungle.

Menurut Nadia Maya Ardiani, salah satu pegiat makrame di Surabaya, mengaku, makrame adalah kegiatan menyimpul tali yang paling simpel dibanding seni menjalin yang lain yaitu menyulam dan merajut. “Kalau merajut harus pakai hakken, menyulam harus pakai jarum, sedangkan makrame hanya memakai tangan”, tuturnya saat ditemui Majalah SCG.

Tapi jangan dibayangkan makrame sesederhana itu. Justru menurut Maya, kesederhanaan dalam membuat makrame itulah yang menantang. Meskipun ‘hanya’ berbekal kelihaian tangan, sisi menantangnya ada di kreatifitas dan ketepatan dalam mengukur panjang tali, serta menentukan pola agar karya yang dihasilkan tidak mengecewakan.

Untuk membuat makrame, pola sebaiknya ditentukan di awal. “Sebenarnya bisa diubah di tengah, tapi akan mengubah jalin simpul yang sudah dibentuk,” kata wanita berhijab ini. Sedangkan pada pemakaian tali, untuk membuat hasil karya dengan ukuran satu meter, tali yang dibutuhkan bisa 5-7 kalinya. Maya mencontohkan, wall decor berukuran 1 x 1½ meter buatannya bisa memakan tali sepanjang 200 meter tergantung kerumitan pola dan ukuran.

Tantangan lainnya adalah harus sabar saat melakukan gerakan-gerakan menyimpul yang sifatnya repetisi. Saat membuat makrame dengan lebar 1 meter, bisa menggunakan sampai 100 kaitan untuk simpul awal. Satu kaitannya berisi dua tali. Mula-mula, tali diuntai membentuk simpul mati di atas sebuah papan yang berfungsi sebagai sebagai gantungan. Simpul-simpul dijalin ke bawah hingga mendapat pola yang diinginkan. Dalam satu karya makrame ia bisa memadukan sampai 16 simpul yang berbeda, bahkan lebih.

Penggunaan tali untuk makrame disesuaikan dengan karya yang akan dibuat, pada umumnya dipilih tali yang berasal dari bahan yang lembut, kuat, dan tidak terlalu elastis. Tapi yang umum digunakan adalah tali kur. “Bisa juga pakai tali katun untuk hasil yang lebih premium, hanya saja sementara ini suppliernya masih susah didapat. Saya baru menemukan satu penyuplai tali katun yang ada di Jakarta,” beber wanita yang membuka bisnis makrame melalui brand Kembangapi Macramé & Some ini.

Untuk menghasilkan sebuah karya makrame berukuran 1 meter, dibutuhkan waktu 2 hingga 3 hari. Lagi-lagi tergantung pada pola dan ukuran. Makin kecil dan mudah, makin sedikit waktu yang dibutuhkan. Sedangkan untuk harga, juga bervariasi mulai dari ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Makin besar dan rumit, makin besar rupiah yang harus dikocek. Maklum saja, seni yang satu ini tak berbeda dengan kerajinan tangan lain yang dikerjakan secara handmade. Butuh ketelatenan dan kesabaran khusus dibalik tiap jalinan simpulnya. 

julajuli.com

Romansa Onni House Surabaya

Setelah sukses di Jakarta, Onni House membuka store di Surabaya, awal Agustus 2019. Onni House menempati rumah peninggalan Belanda, di Jl. Opak no. 56, tanpa merubah bentuk bangunan. Interiornya tetap sebagaimana aslinya, meski dilakukan beberapa renovasi.

“Saya memadukan rumah peninggalan Belanda ini dengan klasik lokal dan romantic Paris pada tempat ini," ucap Denny Rachmat, Owner Onni House. Beragam bunga dan tanaman, mulai dari yang segar, kering, hingga artifisial tampak di sana-sini. Seperti bunga mawar, matahari, lily, hingga kaktus dan lainnya.

Onni House juga di set up sebagai concept store yang unik. "Onni House merupakan concept store yang memadukan toko bunga, ritel, dan tempat makan. Bisa dibilang mungkin ini toko pertama di Surabaya yang mengusung konsep seperti ini," ungkapnya.

Tiga kebutuhan pelanggan sekaligus akan terpuaskan di tempat ini. Aneka bunga dan tanaman tersedia bermacam jenis. Ada pula aneka produk perawatan tubuh seperti handmade soap, perlengkapan rumah tangga seperti alat makan dari kayu, aneka produk konsumsi seperti kopi dan madu, hingga pernak pernik dekorasi rumah seperti lilin dan kotak penyimpan barang.

Produk-produk home living yang disediakan, katanya, merupakan buatan artisan, baik lokal maupun internasional.

"Kami pilih produk-produk yang unik dan berkualitas. Sebelum dijual, sample product itu kami kurasi dengan berbagai pertimbangan mulai dari harga, kualitas, keunikan, dan seterusnya," paparnya.

Pengunjung bisa mendapatkan produk-produk itu sambil santap sedap. Ada lebih dari 30 menu yang ditawarkan. Macam makanannya sama seperti di Jakarta, tapi rasanya disesuaikan dengan lidah orang Surabaya. Katanya, “Menunya halal. Kami ingin semua kalangan bisa bersantap di sini, mulai anak-anak hingga keluarga," ia menjelaskan.

Cukup dengan Rp 30 ribu-Rp 100 ribu, Anda sudah bisa menikmati sajian di resto yang buka pukul 10.00 hingga 22.00 wib. Anda juga bisa menikmati berbagai fasilitas outdoor atau indoor berkapasitas hingga 80 orang, baik untuk acara pesta, arisan, atau untuk foto-foto.

julajuli.com

Epic Gaya Rustic Wood Workshop

Gaya hidup orang sekarang, pertimbangan berkunjung apakah instagramable atau tidak tempatnya. Karen aitulah, para ahli dekorasi menawarkan gaya rustic sebagai pengganti kejumudan gaya minimalis. Hasilnya, epic atau ciamik. Gaya rustic (=”berkarat” atau tua) lalu banyak disuka dan booming.

Rustic menawarkan kesan alami dari kayu dan besi sebagai material utamanya. Bukan berarti tak beraturan dan tak terawat. Pola dan tekstur alami kayu memang dibiarkan dan diekspos sebagai keindahan tersendiri. Bahkan kayu muda terpaksa dilakukan pembakaran lalu diamplas agar kesan usangnya muncul.

Gaya rustic ini mulai booming pada 2015. Namun, kata Seger, pebisnis properti Rustic Wood Workshop, gaya rustic sebenarnya sudah lama diterapkan di negeri ini.

“Lihatlah rumah-rumah adat yang banyak menggunakan bahan kayu. Rustic hanyalah sebutan atau konsep baru untuk gaya dekor yang sudah diterapkan sejak lama oleh masyarakat kita,” paparnya.

Mengapa rustic banyak diminati, karena gaya ini menawarkan kesan simpel dan natural. Warna yang dimunculkan juga tak jauh dari warna alam; hijau, coklat, hitam dan putih. Warna-warna inilah yang memberikan kesan fresh.

Warna putih tembok, misalnya, sangat direkomendasikan karena netral dan tidak bertabrakan dengan warna perabot hunian yang dominan putih. Atau menggunakan lampu bohlam bercahaya kuning yang menghadirkan kesan remang, teduh, dan jadul. Atau mungkin mengganti sofa dengan kursi dan meja kayu yang alami, polos tanpa poles dan ukiran.

Di bagian luar, diterapkan pada penataan taman dengan tanaman floris atau tanaman hutan. Seperti cemara atau pinus yang berwarna hijau atau coklat, tanpa ada tambahan warna lain. Di teras rumah, bisa dipasang aksesoris, seperti lampu ukir pada tembok, tanaman gantung yang hijau, untuk memperkuat kesan rustic.

Kini, katanya, masyarakat Surabaya juga banyak yang tertarik menerapkan gaya rustic. Bukan sebatas rumah, gaya rustic sudah banyak ditemui di kedai kopi, restoran, hotel, termasuk pusat perkantoran.

“Biasanya minat masyarakat terhadap gaya baru akan bertahan sekitar 10 tahun. Jadi kemungkinan besar gaya rustic ini akan tetap menarik, sehingga peluang bisnis di bidang interior-eksterior rustic masih terbuka lebar,” katanya.