Ketika bertandang ke Atlanta, ibukota negara bagian Georgia Amerika Serikat, maka wajib hukumnya mengeksplorasi “World of Coca Cola” di kawasan 121 Baker St NW, sebuah museum yang mengisahkan kedigdayaan sejarah minuman ringan Coca Cola yang dilahirkan Dr. John S. Pemberton di Atlanta tahun 1886.

World of Coca Cola sebenarnya bukan sekedar pameran sejarah Coca Cola, tetapi lebih pantas dikategorikan atraksi sejarah dan gambaran masa depan bisnis minuman yang telah melegenda dan ikonik. Faktanya bisnis minuman ini masih eksis sampai sekarang. Maka museum World of Coca Cola juga terbaca sebagai sarana publikasi, branding dan sumber pedapatan lain-lain. 

julajuli.com

Awalnya museum yang didirikan 3 Agustus 1990 ini berlokasi di kawasan downton Atlanta. Tetapi sejak 24 Mei 2007 World of Coca Cola direlokasi ke kawasan yang diberi nama Pemberton Place, nama yang dipilih untuk menghormati sang pendiri Coca Cola. Lokasi ini sebenarnya hanya beberapa blok dari gedung tempat Dr. John S. Pemberton menemukan formula Coca-Cola pertama kali.

Museum ini beruntung berada di bagian Atlanta yang paling atraktif bagi turis. Lokasinya tepat di seberang Centennial Olympic Park, serta bertetangga dengan the Georgia Aquarium, Center for Civil and Human Rights, studio pusat CNN TV serta Georgia World Congress Centre. Biasanya turis akan menghabiskan waktu dengan menggilir hampir semua obyek wisata di kawasan ini. Apalagi operator wisata Atlanta menjual beberapa obyek ini, termasuk World of Coca Cola dalam rupa paket dengan harga yang lebih murah.

julajuli.com

Tidak sulit menemukan World of Coca Cola, karena ada dua tetenger yang memudahkan pengunjung. Tetenger pertama adalah sebuah botol raksasa yang bertengger di atap museum, sehingga dari jauh mudah terlihat. Apalagi di malam hari lampu-lampu di dalam botol itu akan menyala. Tanda lainnya sebuah tutup botol warna merah berukuran jumbo tepat di seberang loket dan pintu masuk museum.

World of Coca Cola yang dibangun dengan biaya 97 juta dollar Amerika, menawarkan atraksi yang berbasis teknologi terkini. Pengunjung memerlukan waktu sedikitnya 2 jam untuk mengitari seluruh koleksi museum dan menikmati atraksi buatan yang sangat menghibur. Dengan modal tiket masuk 17 dollar Amerika, pengujung akan merasakan kenyamanan sejak memasuki lobi museum. Beberapa penerima tamu dengan ramah menyapa pengunjung sambil membagikan sekaleng minuman Coca Cola. Seketika lenyaplah rasa haus akibat antrian masuk yang panjang dan berlapis.

Pengalaman di Lobi yang impresif itu terus terpelihara ketika pengunjung mengelilingi ruangan dengan rute yang ditata sesuai urutan sejarah Coca Cola. Pengelola museum menata atraksinya dalam 2 thema utama. Thema pertama adalah kisah sejarah Coca Cola yang ditemukan dalam rangkaian ruangan ‘The Loft’, ‘Coca Cola Theatre’, ‘The Vault’, ‘Milestone of Refreshment’, dan ‘Bottle works’.

julajuli.com

Ruangan-ruangan ini direkayasa seakan-akan pengunjung berada di lingkungan pabrik Coca Cola. Mereka diajak memasuki ruangan peracik rahasia formula minuman, juga dibawa dalam kisah perjuangan para penemu, termasuk melihat dari dekat instalasi pengisian minuman ke dalam ribuan botol di rel-rel yang sliweran di atas kepala para turis. Berbagai peralatan dan benda-benda historik terpajang rapi, termasuk mobil kuno untuk distribusi botol-botol. Parade iklan Coca Cola sepanjang sejarah dari seluruh negara dengan ragam bahasa dipertontontan di teater khusus. Intinya rahasia dapur dipertontonkan transparan.

Setelah itu pengunjung dibawa ke dalam thema kedua, yaitu atmosfir kekinian. Isinya ada ‘Coca Cola Polar Bear’, yaitu berfoto bersama dengan tokoh beruang sebagai binatang pilihan museum. Juga ‘Coca Cola Portrait Wall’ dimana pengunjung bisa menambah koleksi fotonya atau berfoto selfie. Coca Cola dalam konteks kekinian disajikan secara artistik di ruang ‘Pop Culture Gallery’. Ruangan ini mempersepsikan Coca Cola bukan sebatas produk minuman ringan, tetapi sebagai ikon kebudayaan yang mendunia. Misalnya terpajang pahatan seni berujud botol Coca Cola raksasa, serta desain-desain kontemporer yang merepresentasikan korporasi minuman raksasa ini.

julajuli.com

9 juta pengunjung

World of Coca Cola sejatinya bukan sekedar museum dalam definisi yang sempit, tetapi juga wahana hiburan keluarga khususnya anak-anak. Di teater 3D yang menyajikan film 3 Dimensi berthema penemuan formula rahasia Coca Cola, penonton seakan-akan dibawa ke dalam petualangan seru penemuan formula ajaib yang membuat produk Coca Cola sukses. Konstruksi tempat duduknya dirancang dapat bergerak-gerak dan berguncang keras, membuat penonton seakan menjadi bagian dari kisah film 3 Dimensi tersebut.

Di akhir kunjungan, tamu-tamu disuguhkan sensasi tak terlupakan saat memasuki ruangan ‘Taste it’. Di ruangan ini pengunjung dengan leluasa dapat mencicipi sekitar 100 rasa berbeda minuman Coca Cola yang diproduksi di beberapa benua, yaitu citarasa Asia, Afrika, Eropa, Amerika Latin dan Amerika Utara tanpa dibatasi. Nampak turis-turis yang penasaran hilir mudik membawa gelas mereka ke keran-keran dispenser sambil mencoba sebanyak mungkin rasa yang mampu mereka minum.

Akhir dari kunjungan di World of Coca Cola adalah toko suvenir yang selain menjual benda-benda berlogo Coca Cola, juga tempat mengambil foto-foto kenangan pengunjung yang dipotret fotografer profesional sebagai suvenir. Antrian panjang di puluhan kasir, serta turis yang menenteng belanjaan menjadi tanda sukses museum ini menjual citra merek.

julajuli.com

Menilik antrian panjang turis sejak pintu masuk museum hingga pintu keluar toko suvenir, sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Sebab dalam catatan, khususnya saat museum belum direlokasi, jumlah pengunjung antara tahun 1990 hingga 2007 mencapai 9 juta orang. Sehingga World of Coca Cola dinobatkan sebagai atraksi dalam ruangan yang paling sukses di Atlanta dibandingkan obyek turis sejenis. Sayang belum ada data jumlah turis yang sudah mengunjungi gedung museum baru dalam 10 tahun terakhir.

Sebenarnya sulit untuk menyebut World of Coca Cola sebagai museum. Karena mereka tidak melulu mempresentasikan benda sejarah dan masa lalu yang sudah berakhir. Museum ini lebih tepat disebut strategi jitu mempromosikan jejak produk legendaris yang sejarahnya masih berkelana. Sehingga keuntungannya bukan saja didapat dari penjualan produk, tetapi citra produk yang semakin kuat itu menjadi amunisi baru untuk penjualan. Sederhananya, World of Coca Cola di Atlanta adalah etalase engagement korporasi dengan matarantainya.

Barangkali Dr. John S. Pemberton sama sekali tidak pernah membayangkan, ia akan mewariskan produk minuman temuannya hingga lebih dari satu abad. Ia pasti juga tidak bermimpi sosoknya akan diabadikan dalam rupa patung perunggu, dan dipajang di taman yang juga mengabadikan namanya. -Errol Jonathans, CEO Suara Surabaya Media