Seperti yang sudah ramai diperbincangkan, Parasite keluar menjadi pemenang Film Terbaik Oscar tahun ini. Dan secara mengejutkan Parasite mampu meraih lebih dari satu piala Oscar melalui beberapa kategori diantaranya Sutradara Terbaik, Film Feature Internasional, dan Skenario Asli Terbaik.

Film besutan Sutradara Bong Joon-ho ini mengalahkan 1917 yang digadang-gadang menjadi saingan terberatnya. Selain 1917 masih ada tujuh judul lainnya yaitu
Ford v Ferrari, The Irishman, Jojo Rabbit, Joker, Little Women, Marriage Story, dan Once Upon a Time in Hollywood

Mengangkat drama keluarga kaya dan miskin sebagai jalan cerita, Parasite menghadirkan jalan cerita yang tak jauh dari kehidupan sehari-hari. Plot twist di bagian akhir film mampu membuat penonton terperanjat.

Kejayaan Parasite menjadi ramai diperbincangkan di jagad maya dan memantik diskusi tentangnya. Banyak pula yang membagikan deretan film yang disutradarai Bong Joon-ho diantaranya Memories of Murder (2003), The Host (2006), Mother (2009), Snowpiercer (2014), dan Okja (2017). Bahkan warga maya saling berbagi daftar film Korea yang wajib ditonton selain Parasite.

Kemenangan Parasite menghembuskan angin segar dan optimisme bila film-film Asia bisa berjaya dan mampu bersaing dengan film di ranah internasional. Perbedaan bahasa tak jadi kendala.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Setiap tahun Indonesia mengirimkan film terbaiknya untuk seleksi Oscar. Tahun 2019 film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak dikirimkan untuk kategori Best Foreign.

Adalah Kucumbu Tubuh Indahku, karya Garin Nugroho yang diikutkan dalam kategori International Feature Film Awards 2020. Pada tingkat internasional, Kucumbu Tubuh Indahku menyabet Bisato D’oro Award Venice Independent Film Critic (Italia, 2018), Best Film pada Festival Des 3 Continents (Perancis, 2018), dan Cultural Diversity Award under The Patronage of UNESCO pada Asia Pasific Screen Awards (Australia, 2018).

Di ajang Cannes International Film Festival, pada tahun 1998, 2005, 2015, dan 2017 beberapa film Indonesia berhasil ditayangkan. Tjoet Nja’ Dhien, Daun di Atas Bantal, Kara Anak Sebatang Pohon, Serambi, The Fox Exploits The Tiger's Might dan Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak.

Terlepas dari semua itu, saat menerima penghargaan Best Foreign Language di ajang Golden Globe awal Januari lalu, dalam pidato kemenangannya, Bong Joon-ho berkata: “I think we use only just one language: the cinema”. Tanpa ditawar lagi, kita semua tentu sepakat akan itu. Bahasa tak harusnya membuat film menjadi tersekat dan eksklusif.