Kawasan pantai jelas memiliki segudang kekayaan biota laut. Sebagian untuk dikonsumsi, sebagian dibuang menjadi limbah. Bayangkan, dalam puluhan tahun, berapa banyak limbah yang akan menyesaki kawasan pantai. Bila tak ada tangan-tangan kreatif, limbah itu akan menggunung atau terserak merusak pemandangan pesisir pantai.

Kondisi seperti itu nyaris terjadi di semua kawasan pantai nelayan. Tak terkecuali kawasan Pantai Kenjeran. Limbah kulit kerang saja, katanya, bisa mencapai 25 kwintal per hari. Biasanya, kulit kerang itu hanya ditimbun atau dibuang lagi ke laut. Karena itu, tak heran bila kawasan kampung nelayan identik dengan kumuh dan bau.

Masih untung ada tangan-tangan warga kreatif yang menjadikan limbah-limbah itu sebagai bahan kerajinan. Bila sempat mengunjungi gerai kerajinan berbahan biota laut, kita akan temukan kebanyakan berbahan kerang-kerangan. Dibentuk menjadi gelang, kalung, hiasan dinding, hiasan lampu, pigura, dan sebagainya.

Nah, yang dilakukan warga RW 2 Cumpat, Kelurahan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak Surabaya juga unik. Mereka menjadikan kulit kerang sebagai pemanis paving yang diproduksinya. Kulit kerang berbatik apik itu menghias cetakan paving yang berbentuk segi enam. Hasil karya itu terang saja memberi angin segar bagi para nelayan Kampung Cumpat. Hitung-hitung bisa menjadi tambahan penghasilan bersama.

julajuli.com

Paving Bermotif

Paving di kampung-kampung itu sudah biasa, buatan pabrik. Seragam, polos. Hanya berbeda bentuk; segi empat, persegi panjang, segi tiga, dan seterusnya. Tapi paving yang diproduksi warga Kampung Nelayan Cumpat tampak lebih cantik. Kulit kerang yang diolah sebagai bahan campuran semen, menjadi motif paving yang unik. Bahkan bisa menimbulkan warna-warna tersendiri bila terkena sinar mentari.

Cara membentuk motif itu dihasilkan dari olah budi dan pikir warga kampung sendiri. Mereka membuat molding (mal cetakan) dari kayu sebagai matras, berbentuk segi enam. Dari matras itulah dibuat disain pencetak motif kerang.

“Kita mencoba berbagai pola dan disain. Lalu dipilih yang paling pas sebagai ciri khas paving Cumpat. Sementara bidangnya hanya segi enam. Lalu bagian atasnya diberi kulit kerang bermacam bentuk dari matras,” kata M Ikhsan, Ketua Paguyuban Kelompok Nelayan Bintang Samudra Cumpat.

Dari berbagai macam percobaan itu, mereka bisa membuat berbagai varian motif. Setidaknya ada 12 motif paving yang sudah dibuat. Ada yang bermotif kerang kecil, ada yang bermotif kerang besar. Warna-warni kerang juga dipilihkan yang beraneka varian agar lebih menarik.

Paving hasil karya warga kampung Cumpat itu sudah pernah diborong pihak Kecamatan Bulak sebanyak 1000 paving, atau sekitar luasan 10 meter persegi. Selain itu, katanya, ada dari Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya yang juga pesan dibuatkan.

julajuli.com

Gotong Royong

Pembuatan paving itu dilakukan bergotong royong oleh warga Kampung Cumpat. Mereka para nelayan yang setiap hari berkutat dengan acara mencari ikan sebagai sumber kehidupan sehari-hari. Rata-rata mereka berangkat pukul 06.00 wib dan pulang hingga pukul 15.00 wib.

Aktifitas melaut seharian penuh seperti itu, ternyata tak menyurutkan semangatnya dalam memproduksi paving motif kerang. Mula-mula ada sekitar 15 nelayan anggota Paguyuban Kelompok Nelayan Bintang Samudra yang aktif turut berproduksi.

Per hari mereka bisa membuat sebanyak 50 paving. Sedikit? Iya. Mereka sebenarnya punya target bisa memproduksi 100 biji paving. “Tapi karena mesin pencetaknya hanya satu, jadi ya mengikuti kemampuan alat saja,” tukas Simin, panggilan akrab M Ikhsan.

Para nelayan pegiat pembuatan paving ini sejak awal sudah mendapatkan pelatihan serta komposisi yang tepat untuk menghasilkan paving yang kuat. Komposisi yang tepat antara semen, pasir, dan kerang yang dihaluskan diatur sedemikian rupa. Perbandingannya, satu timba semen dan tiga timba pasir diolah dengan tambahan empat timba kulit kerang.

Menjelaskan tentang hasil penelitian, katanya, limbah kulit kerang mengandung silika tinggi, sehingga bagus dibuat campuran paving.

julajuli.com

Soal Permodalan

Samiadi Santoso, Ketua RW 02 Cumpat, mengatakan sebenarnya total terdapat sekitar 200 nelayan di kampungnya. Setiap hari para nelayan mencari kerang sehingga ketersediaan bahan baku kulit kerang selalu ada tiap hari. Karena itulah ia kerap menantang para mahasiswa yang sedang melakukan studi di wilayahnya.

“Tiap ada mahasiswa yang ke sini, selalu saya beri tantangan bagaimana mengatasi masalah limbah kerang. Apa yang bisa dilakukan untuk membuat limbah kerang bisa dimanfaatkan dan tidak terbuang percuma,” ujarnya.

Kelompok mahasiswa dari PENS ITS, antara lain yang berhasil meneliti tentang kandungan kerang yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan paving. Satu mesin pengolah dan pembuatan paving juga merupakan hasil pemberian para mahasiswa itu. Plus pelatihan cara pembuatannya.

Namun, setelah masa studi mereka berakhir dan pergi, nelayan harus memaksimalkan sendiri kemampuannya memproduksi paving. Pasang surut, tidak bisa melakukan produksi tiap hari. Kalau ada pesanan saja mereka baru memproduksi. Belum ada penambahan alat lagi. Tak cukup modal untuk pengadaan mesin sendiri. Pengajuan permodalan yang dilayangkan ke beberapa perusahaan, belum kunjung terealisasi juga.

“Itulah antara lain masalah yang masih menjadi kendala, sehingga kita tidak bisa berproduksi secara terus-menerus,” katanya.

Padahal, lanjutnya, kulit kerang juga memiliki manfaat sebagai pakan itik. Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, kulit kerang mengandung manfaat untuk menguatkan cangkang telur. Penelitian itu dilakukan di Sucofindo dan sudah mendapatkan sertifikat resmi untuk dikembangkan.

“Tapi karena sifatnya makanan, harus dilakukan dengan saksama sehingga benar-benar bisa bermanfaat sebagai pakan hewan petelur, khususnya. Kami masih menunggu sampai persiapan dan hasilnya bisa dipertanggungjawabkan,” jelasnya.

julajuli.com