Jaman sudah berubah, semua serba terbuka. Warga kampung gagah berani unjuk gigi. Kampung di kota besar seperti Surabaya pun tampil mengedepan. Bahkan sudah banyak kampung menjadi destinasi wisata alternatif yang gemar dikunjungi para turis. Nah, asrama polisi pun sudah mempercantik diri, membuka pintu untuk kunjungan rekreatif wisatawan, dan siap-siap menjadi spot wisata menarik.

Kesan tentang asrama polisi seperti yang Anda bayangkan, tak berlaku di lingkungan asrama polisi di Jl. Koblen no. 7, Bubutan, Surabaya ini. Kesan kusam berubah menjadi warna-warni. Kesan lengang hilang berganti dengan keceriaan. Aturan tertutup sudah tidak berlaku lagi. Asrama polisi ini sudah membuka diri dan warganya telah bebas bergaul layaknya warga kampung lainnya di Surabaya.

“Asrama polisi ini tak lagi menutup pintu dengan ketat. Warga asrama sudah bebas bergaul seperti masyarakat pada umumnya,” jelas Warsikin, Ketua RW 9 Bubutan, Surabaya.

Ya, pintu asrama yang biasa dijaga ketat oleh petugas, kini sudah terbuka. Dulu, warga yang hendak berurusan dengan soal administratif kependudukan, misalnya, tidak bebas mengurus sendiri. Warga asrama bagai terisolasi dengan urusan dunia luar.

Suasana seperti itu sudah berubah total. Bahkan tata laksana administrasi kewargaan juga berubah. Komplek asrama yang semula hanya termaktub dalam satu administrasi, berubah menjadi satuan Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT) dalam tata kelola administrasi kota.

Komplek asrama polisi itu pun terdaulat menjadi bagian dari satuan warga dan masuk RW 9 yang terbagi menjadi 3 RT; 1, 2, dan 3, Bubutan, Surabaya. Sejak itu, gereget warga pun bangkit untuk berbenah hingga puncaknya pada Agustus 2018. Atas saran berbagai pihak, termasuk pegiat kampung lawas Maspati, Sabar Swastono, lorong-lorong Aspol Koblen itu pun tampil kian cantik, asri, dan berwarna.

julajuli.com

Dilirik Turis

Upaya warga Aspol mempercantik lingkungan, tergolong cepat mendapat apresiasi. Setidaknya sudah banyak turis dari berbagai negara; Malaysia, Spanyol, dan Inggris, yang berkunjung dan menikmati berbagai spot menarik di komplek Aspol Koblen ini.

Ceritanya, mula-mula tumbuh semangat dari warga RT 2 yang mengadakan lomba kebersihan kampung. Lomba kebersihan yang diikuti oleh 3 dasawisma itu lantas memicu gereget warga lainnya untuk berbenah. Kebersihan menjadi fokus utamanya.

“Dimulai dari gerak RT 2 itu, lalu semua warga ikut tergerak untuk melakukan kegiatan yang sama,” papar Nurul Chasanah, kader lingkungan, yang saat berbincang ditemani Ketua RT 2 (Marlinda) dan Ketua RT 3 (Wiwik Subagio).

Tak berhenti hanya soal kebersihan, warga asrama pun mewarna tembok-tembok rumah, jalan gang, dan spot lain yang bisa diberi lukisan. Jalan masuk gang juga dirias yang cantik untuk swafoto (selfie).

“Lukisan di dinding asrama ada yang menggunakan cat semprot, ada yang memakai cat tembok,” cetus Nurul. “Beruntung kita punya seniman lukis, jadi semua lukisan itu dikerjakan sendiri. Ada yang sepenuhnya dikerjakan oleh pelukis kita, ada yang cuma diberi skets dan pengecatannya dilaukan oleh semua warga, para ibu, bapak, bahkan anak-anak.”

julajuli.com

Nyaris semua dinding rumah dipenuhi bermacam lukisan, seperti tokoh kartun Frozen, Mickey dan Minnie Mouse, dan banyak lagi. Sehingga, memasuki lorong-lorong asrama ini terasa menggairahkan.

Warga asrama, lanjutnya, juga mengembangkan tanaman toga. Meski belum panen, tapi warga sudah mulai belajar untuk nantinya bisa mewujudkan rencana membuat produk olahan yang bisa menghasilkan keuntungan ekonomi untuk biaya pengembangan lingkungan.

Hebatnya, gagasan mempercantik komplek ini mendapat sambutan positif dari semua warga. Partisipasi warga, diakuinya, sungguh luar biasa. Bapak-bapak selepas bertugas di sore hingga malam hari saling guyub mengerjakan pekerjaan kampung yang belum selesai. Para ibu juga ikut terlibat menyiapkan segala sesuatunya. Anak-anak kecil pun ikut-ikutan sehingga makin meramaikan suasana.

“Bhinneka Tunggal Ika sangat terada di sini,” ujarnya. Karena, warga yang tinggal di asrama ini terdiri dari bermacam daerah, suku, bahkan agama. Tapi semua terlibat tanpa ada sekat penghalang. Corak kehidupan yang tampak juga seperti layaknya kehidupan kampung; tak ada ego sendiri, semua saling membantu tanpa diminta sekalipun. Adab terhadap tamu juga sangat dijaga, dan ditularkan kepada anak-anak.

Itu pula, katanya, yang menyebabkan para turis merasa sangat senang berkunjung berlama-lama di komplek aspol ini. Anak-anak menyambutnya dengan salim cium tangan, diiringi keramahan yang ditunjukkan bapak-ibu warga asrama.

julajuli.com

Destinasi?

“Kita memiliki impian yang sama untuk bisa memberikan yang terbaik buat kota ini,” seru Warsikin. Tapi, diakuinya, masih butuh kerja keras dan semangat yang konsisten untuk bisa mewujudkannya.

Komplek seluas 22.350 meter persegi ini terdiri atas 253 rumah dan 8 lorong asrama. Sehingga, jelasnya, untuk menjadi destinasi kampung wisata, semua bagian itu harus sudah tertata sehingga layak dikunjungi. “Bukankah masih sangat banyak yang harus dikerjakan? Untuk memoles semua bagian itu kan juga memerlukan biaya. Sementara yang sudah ada sekarang dibiayai dari swadaya,” cetusnya.

Tapi, ia menambahkan, melihat potensi yang yang ada, mulai dari bangunan kuno, sejarah yang melekatinya, suasana kampung dengan warganya yang ramah, terbilang sangat berpeluang untuk bisa menjadi destinasi wisata. “Hanya menunggu waktu saja hingga saatnya benar-benar bisa menyuguhkan destinasi alternatif di kota ini,” harapnya.