Ancaman bencana alam terus mengintai kita. Kondisi alam, beberapa kali terbukti menguji kesabaran dan kesiagaan kita menghadapi ujian dari Sang Khalik, dalam wujud bencana alam. Tanpa pandang bulu dan tanpa memilih lokasi, bisa terjadi dan menimpa siapa saja.

Dalam setiap kejadian bencana, kita tahu ada kontribusi peran para Relawan Bencana. Siapa relawan bencana ini? Relawan bencana adalah masyarakat yang memiliki keahlian di bidang kebencanaan. Ada banyak organisasi yang memilih roda organisasinya bergerak ke arah kebencanaan.

Atas alasan kelancaran dan koordinasi organisasi penanganan bencana, dibutuhkan desk relawan. Dari sinilah kemudian lahir Sekretariat bersama Relawan Penanggulangan Bencana, kemudian disingkat SRPB Jawa Timur.

“Jadi SRPB merupakan wadah dari organisasi-organisasi relawan yang bergerak di bidang kebencanaan di seluruh Jawa Timur,” terang Dian Harmuningsih, Koordinator SRPB Jawa Timur. Kini anggotanya sudah mencapai 129 organisasi relawan dan komunitas, semua kedudukannya sebagai mitra, bukan anggota. Sesuai dengan hasil kesepakatan pada rapat koordinasi pertama.

julajuli.com

Sertifikasi Kompetensi

Muasal terbentuknya SRPB, ketika di tahun 2017, berkenalan beberapa organisasi, yang digagas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). “Ketika itu berjumlah 23 organisasi. Kemudian kami sepakat kemudian membentuk Panitia Ad Hoc,” kenang Dian. Menurutnya panitia sementara ini dibentuk untuk bekerja membuat konsep. Konsep untuk pelaksanaan kongres pertama.

Kongres digelar bulan April 2017, bertempat di Malang, dihadiri oleh sekira 100 organisasi kebencanaan. Yang menyenangkan, dari kongres itu juga memantapkan niat untuk mendirikan SRPB. “Jadi SRPB memang diinginkan oleh sekian banyak anggota sendiri,” tegasnya.

“Setelah kongres, Kami membuat sistem bagaimana organisasi ini benar-benar hadir oleh dan untuk Kami,” kata Dian. Ini merupakan organisasi pertama di Indonesia, mandiri, dan independent, bekerja didukung pihak ke-3. Motto; Bersatu, Bersinergi, untuk Peduli.

“Tahun 2017, Kami diberi kesempatan untuk mengikuti sertifikasi uji kompetensi. Yang digelar Lembaga Sertifikasi Profesi Penanggulangan Bencana (LSPPB). Dari sana Kami jadi tahu, bahwa seorang sukarelawan sekalipun harus punya standar kompetensi,” urainya. Dari 9 orang yang pertama kali ikut, Dian termasuk yang tidak lulus, hanya 2 orang yang lulus ketika itu.

julajuli.com

Tapi itu jadi pecut, harus terus meningkatkan kemampuan diri. SRPB pun mulai menyusun sistem. “Kuncinya harus meningkatkan sumber daya manusianya,” tegas Dian lagi. Dari sisi manusianya, dengan memberikan pengetahuan/ wawasan, terutama dalam 3 fase; pra bencana, tanggap darurat, pasca bencana.

Ada 3 hal kompetensi; 1. Pengetahuan/ knowledge, 2. Skill/ keterampilan, dan 3. Etika. “Tapi bukan hal mudah mewujudkannya, di antaranya untuk meningkatkan kompetensi harus melalui pelatihan. Dan tentu saja butuh biaya yang tidak sedikit. Maka solusi kami dengan Arisan Ilmu Nol Rupiah,” tuturnya.

Arisan Ilmu ini merupakan program unggulan yang digelar rutin 2 minggu sekali, sekarang sudah digelar kali ke 30. Menghadirkan nara sumber, bertempat di gedung SRPB, dan peserta yang berminat hadir akan mendaftar. Tanpa biaya, bahkan narasumber pun tidak berbiaya.

Yang menarik, konsumsinya pun perserta membawa sendiri-sendiri, untuk kemudian dinikmati bersama. Materi yang diberikan, tidak hanya dari narasumber yang berkualifikasi tinggi, di dalam gedung. Juga kerap dilaksanakan di luar gedung.

julajuli.com

Bagaimana mewujudkannya, lalu apa yang SRPB lakukan? “Kami harus sinergi, walau tidak mudah, sepakat untuk senantiasa guyub dan rukun untuk bergerak bersama. Bisa dibayangkan mengumpulkan lebih dari 100 organisasi yang beragam, dibawah payung SRPB Jawa Timur,” urai Dian yang sehari-hari sebagai Dosen UIN Sunan Ampel, Surabaya.

Alhasil, upaya mereka berbuah manis. Kekompakan komunitas relawan Jawa Timur ini muncul ke permukaan, dan banyak yang mengakui. Pada event Dharma Relawan Adi Rajasa di Bali, kontingen Jawa Timur tercatat sebagai peserta terbanyak, 35 orang, dan semangat sekali dan kompak.

“Dalam sinergitas kami bekerja bersama pemerintah. Dalam lingkaran 5 untaian Pentahelix; Pemerintah, Masyarakat/ Relawan, CSR/ Bidang Usaha, Media, & Akademisi.

Sudah banyak kontribusi, sejak pertama kali terbentuk. Turut peran pada kejadian di longsor di Ponorogo, longsor di Nganjuk. “Kemudian bencana Lombok kami juga turun bersama 63 organisasi, lebih dari 5.000 relawan Jawa Timur terlibat.

Pada bencana gempa Palu, juga bersama 33 organisasi, sekira 2.000 lebih relawan Jawa Timur. “Saya ketika itu sebagai Ketua Brigade Penolong 13, Jawa Timur, saja membawa 5 gelombang, sekira lebih dari 150 orang sukarelawan,” kenang Dian.

julajuli.com

Tahun ini SRPB mencanangkan diri menjadi organisasi dengan manajemen organisasi yang baik. Mereka yakin, di luar sana masih banyak organisasi yang perlu diyakinkan untuk bergabung dalam wadah SRPB di masa depan. Hingga sekarang 129 organisasi sudah terdata, sebanyak 15.825 relawan.

Markas SRPB berada di lingkungan kantor BPBD Jawa Timur, Jl. S. Parman 55 Waru, Sidoarjo. Di sini sekaligus sebagai pusat koordinasi, informasi, dan komunikasi. SRPB adalah wadah organisasi, jadi tidak menerima relawan yang ingin bergabung secara pribadi-pribadi/ mandiri.

Tahun 2020 akan ada kegiatan nasional, Rakornas BNPB, bulan Pebruari. Kemudian, juga akan berkontribusi membantu BPBD dalam mempersiapkan 40 Desa Tangguh Bencana 2020. Sementara kegiatan internal, terus meningkatkan kapasitas organisasi dari masing-masing organisasi anggota SRPB, sekaligus menguatkan kualitas SDM dari anggota.

Semua tahu, kekuatan relawan Jawa Timur itu besar, dan diakui oleh BNPB; bahwa Jawa Timur itu relawannya guyub dan rukun. Jadi bangga…