Agak kaget ketika bertandang ke komplek Perumahan Babatan Pilang, sore itu. Ada speaker aktif yang disetel lagu-lagu. Ada banyak ibu-ibu yang berkumpul di joglo taman yang membentang di tengah kampung RT 01 RW V, Kelurahan Babatan, Kecamatan Wiyung, Surabaya. Seperti ada hajatan kampung. Membuat agak canggung saat hendak menyapa.

Tapi legalah ketika mereka berujar tidak ada acara khusus. Mereka bilang,”Ya memang beginilah hari-hari kami di kampung ini.” Tak lama, beriringan datang ibu-ibu yang lain disusul bapak-bapak. Semakin ramailah suasana taman yang diset up indah dan nyaman.

Di taman seluas lebih kurang 360 meter persegi itu penuh tanaman dan bunga, 3 joglo, sudut baca, dan alat bermain anak. Jalan di sekeliling taman, dipercantik dengan beragam gambar untuk tempat anak-anak bermain. Ya, ‘Taman Bestari’ itu memang dijadikan sebagai smart garden, yakni pusat toga, permainan, dan literasi.

julajuli.com

Ramah Anak

Tak lama berselang, sekitar pukul 17.00 wib, serentak anak-anak seusia sekolah dasar, datang berombongan di lingkungan taman. Datang dan datang lagi susul-menyusul. Mereka berkerumun menyaksikan sebagian temannya yang sedang memainkan ular tangga. Ada yang bermain engkle, bersepeda, dan sebagainya. Riang canda tawa mereka berkelindan diantara cengkerama ibu-bapak di taman.

“Mereka baru selesai belajar mengaji, lalu datang di sini,” kata Suhendi, Ketua RT 01. Kalau semua berkumpul, katanya, jumlahnya mencapai 30-40 anak. Dan di jam-jam bermain itu, tak terlihat seorang pun anak membawa gadget. Mereka tampak asyik menikmati bermain, termasuk permainan tradisi yang ada.

“Memang ada anjuran kepada keluarga untuk melepas anak dari gadget saat jam-jam bermain. Kita sediakan banyak alat dan tempat bermain agar anak-anak terlepas dari permainan tangan, beralih ke kegiatan yang bebas mengekspresikan diri,” cetusnya.

Agaknya tujuan utama para tetua kampung tercapai. Yakni menjadikan lingkungannya menjadi Kampung Ramah Anak. Hal itu tampak dari keceriaan anak-anak mereka yang sangat menikmati suasana bermainnya. Para orang tua juga rela berswadaya untuk melengkapi wahana bermain anak yang dibutuhkan.

julajuli.com

Pasukan Semut

Tak hanya soal bermain. Anak-anak juga diajari dan digerakkan kepeduliannya terhadap lingkungan. Dibentuklah namanya Pasukan Semut. Sejumlah anak dibagi berkelompok. Mereka diajak berjalan berkeliling kampung sambil harus memungut sampah yang tercecer.

Lalu diajari memilah antara sampah plastik dan dedaunan atau rumput. Sampah plastik dimasukkan bank sampah, sementara sampah dedaunandan rumput dimasukkan ke lubang-lubang biopori. Di masing-masing lingkungan RT, setidaknya ada 40 lubang biopori bahkan lebih tergantung luasan wilayah. Setelah sebulan, sampah di lubang biopori sudah menjadi pupuk, lalu dipanen. Anak-anak juga diajak bertanam hidroponik, seperti sawi, seledri, kangkung, dan semacamnya.

Masih ada banyak lagi kegiatan untuk anak, baik berkaitan dengan lingkungan maupun literasi, termasuk sesi dongeng anak. Dongeng dianggap masih efektif untuk mengajarkan kepada anak tentang etika dan penanaman nilai-nilai kebaikan lewat cerita. Kadang didatangkan pendongeng, kadang anak-anak sendiri yang disuruh mendongeng. Atau lewat membaca buku-buku cerita.

 

julajuli.com

Awalnya Pengelolaan Sampah

Kesadaran warga perumahan Babatan Pilang, terutama RW 05, sudah tergerak sejak 2014. Mula-mula warga ingin kampungnya bersih, bebas sampah. Apalagi karena wilayah ini bersebelahan dengan kali. Seperti biasa, kali tak henti memproduksi sampah yang kerap sukar ditangani.

Dari satu-dua orang tegerak, lambat laun menular kepada warga lain di kampung yang terdiri dari 7 RT. Lalu masing-masing RT akhirnya berlomba menjadikan lingkungannya terbersih. Tentu pengelolaan sampah menjadi program utamanya.

Mereka pun bersemangat untuk belajar dengan saksama tentang cara penglolaan sampah yang efektif. Belajar dari siapa saja, dari mana saja.

Erna Utami, kader sekaligus penanggung jawab Bank Sampah Sektoral Anggrek, mengatakan belajar adalah habitus yang kini menjalari semua warga. “Kita-kita ini senang belajar, apa saja untuk pengembangan kampung,” tuturnya.

Alhasil, semangat belajar dan kerelaan bertindak tanpa pamrih itulah yang membentuk sukses seperti sekarang. Lingkungan kampung, di masing-masing RT, kini sudah memiliki semua alat dan perangkat untuk pengelolaan sampah. Antara lain sudah punya gerobak sampah, keranjang sampah takakura, tong komposter, IPAL (instalasi pengelolaan air limbah), tempat sampah di tiap rumah, dan keranjang sedekah sampah. Ada pula kubangan yang digunakan untuk budidaya ikan lele.

Seiring pengelolaan sampah itu, tentu penghijauan juga serentak dilakukan. Di tiap rumah, warga harus mengupayakan penghijauan masing-masing. Tak terbatas genus tanaman, semua bisa diterapkan di lingkungan rumah. Tak heran bila hijau asri bisa dirasakan hampir di semua lingkungan kampung.

Bahkan ada cerita menarik ketika dulu hendak memulai penghijauan. Waktu itu, ada warga yang rela merapikan tanaman di taman kota. Lalu diam-diam membawa pulang beberapa potongan dahan untuk dibudidayakan di lahan kampung. Upaya itu ternyata membawa hasil. Dahan yang ditanam bisa tumbuh bagus dan besar. Dari tanaman itu kemudian dipotong, ditancapkan, dan tumbuh. Dan begitulah seterusnya hingga kemudian warga mampu memperkaya jenis dan ragam tanaman yang lain.

Semua keasrian dan keindahan tanaman, termasuk bunga warna-warni di Taman Bestari, bisa diwujudkan melalui swadaya warga. Diakui memang usaha itu menelan banyak biaya. Tapi hasil yang bisa diunduh sebanding dengan dana besar yang dikeluarkan. Upaya itu dilakukan dengan kerelaan dan tanpa pamrih. Kalaupun kemudian diganjar dengan banyak penghargaan dan juara lomba, katanya, hanyalah efek dari ketekunan warga yang memang benar-benar ingin membangun kampung.

Sejak 2016, kampung Babatan Pilang memang berhasil menyabet juara dalam lomba lingkungan sehat yang diadakan Pemerintah Kota Surabaya. Dan terakhir, Desember 2019 lalu, kampung ini menyabet penghargaan sebagai Juara 1 dalam lomba Surabaya Smart City.

julajuli.com

Keranjang Sedekah Sampah

Uniknya lagi, -dan ini inovasi yang tak dimiliki daerah lain di Surabaya- kampung ini punya keranjang sampah yang dinamai: Keranjang Sedekah Sampah. Keranjang ini khusus untuk sampah botol dan gelas plastik. Peruntukannya bukan hanya bagi warga perumahan, tapi menerima dari siapa saja.

“Kami menamai keranjang sedekah karena siapa pun yang mau membuang sampah plastiknya di situ, berarti ia sedang bersedekah meski dalam bentuk sampah plastik,” cetusnya. Karena fungsionalnya, keranjang sedekah sampah ini pun sudah mulai dipesan orang. Termasuk RS Wijaya, yang dekat dengan lingkungan Babatan, Wiyung.

Hebatnya lagi, keranjang sedekah sampah ini sudah menerima dari warga lain di Surabaya, bahkan Malang. Dari warga Surabaya, sudah sering menerima kiriman sampah plastik via Gojek. Sementara yang dari Malang melalui agen JNE. Kok bisa?

Rupanya, keranjang sedekah sampah ini sudah banyak dikenal orang karena terpublikasi di media sosial. Warga kampung ini sudah memanfaatkan kanal media sosial untuk merekam dan mempromosikan berbagai kegiatannya. Antara lain di instagram dan facebook: @ Babatan Pilang RW V, @bapili smart, dan @ Bank Sampah Sektoral Anggrek.

Sampah-sampah plastik itu, baik dari bank sampah maupun keranjang sedekah sampah, lalu disetor ke Bank Sampah Sektoral Anggrek. Dari situ, plastik itu diproduksi menjadi berbagai bentuk kerajinan tangan. Berbahan plastik digunakan untuk produk tas, tempat duduk, wadah baju cucian, souvenir, dan bermacam varian lainnya.

Kreatifitas warga tak berhenti pada plastik. Banyak produk yang lain dibuat menggunakan bahan baku bermacam-macam. Ada cincau organik, vas bunga dari potongan kayu, tas rajut untuk tempat tumbler minum, sabun cuci mijel dari limbah minyak jelantah, dan totebag dari kain spound yang pasarnya sudah sampai Singapura. Ada pula racikan eco enzim berbau harum jeruk dan nanas, yang berfungsi untuk pupuk, melarutkan kotoran septictank, menghilangkan bau got, serta untuk kosek kamar mandi.

Hanya saja, pesan Johny Sunaryo, Ketua RW V, maintenance dan pendataan yang lengkap tetap menjadi perhatian. Ia berharap, keguyuban semua warga seperti itu mesti senantiasa tumbuh dan menular ke generasi berikutnya. Termasuk soal pendataan, setiap tamu yang berkunjung ke kampung ini selalu disilakan mengisi buku tamu sebagai dokumen kampung.

“Siapa tahu, nantinya data itu bermanfaat kalau-kalau kampung ini menjadi destinasi kampung wisata,” cetusnya seraya tersenyum.